Halaman

Jumat, 03 Februari 2012

Embun Di Mata Nanda

Gadis itu melangkah dengan sangat lamban,wajahnya tampak pucat pasi,kantung matanya terlihat cekung dengan rambut yang di biarkan kering dan tegerai kusut,dia trus melangkah memasuki kelas,dia terus terdiam dan tak menoleh,hanya menunduk berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang kian memucat. “nanda? Kamu kenapa? kamu sakit yah?” auliyah teman sebangkunya ,mulai menyapa. “aku tidak apa apa” nanda berkata pelan sambil menundukan wajahnya. “tapi wajahmu pucat sekali hari ini” sambil melihat wajah nanda “aku kan sudah bilang aku tidak apa apa,pergi kau dariku!!” ungkap nanda dengan sedikit membentak. “aneh!!” pikir auliya. Dua minggu ini nanda sangat pendiam,dan dia selalu menyendiri setiap dia di kelas,kadang juga dia bolos sekolah “kalau kau punya masalah,kau jangan malu cerita padaku siapa tahu aku bisa membantu ,,aku siap ko’ dengarin semua cerita mu… “ auliyah meyakinkannya “jangan terlalu peduli padaku.” Dengan suara lemas nanda “kau itu teman sebangku ku,jelas saja aku peduli sama kamu , guru slalu bertanya tentang dirimu, kenapa kau jarang masuk akhir akhir ini?” ungkap auliyah “itu bukan urusan kamu!” nanda menunjukan sikap tak sukanya “ayo lah nanda,aku aku tidak bisa melihat temanku sendiri terhanyut dengan masalah yang dia alami” seru auliyah “kamu tak mengerti dengan apa yang aku rasakan” nanda berdiri dari duduknya lalu melangkah meninggalkan auliyah di kelas. “Nanda, kau mau kemana?” teriak auliyah. Nanda hanya diam,sambil melangkah kakinya,auliyah pun mengejarnya. “bagaimana jika pak’ guru bertanya tentang kau,apa yang harus aku katakan?” Nanda menoleh,menatap wajah auliyah dengan pandangan menusuk. “kau hanya mengatakan apa yang bisa kau lihat sekarang…!” “aku tak tahu kenapa akhir akhir ini kau berubah” “masalah ku adalah masalahku bukan masalah mu,dan yang tahu masalahku hanya allah dan aku,biarkan aku untuk menyendiri!” seru nanda dengan suara lemas “kalau itu yang kau mau aku tidak dapat berbuat apa apa lagi” “terimakasih sudah mau mengerti aku” tanpa rasa ragu sedikit pun nanda melangkah ke luar kelas.*** Nanda kembali ke rumahnya,mengambil ! tas yang penuh dengan pakaian.dan dia keluar dari rumahnya menuju ke rumah sakit,tak di sangaka auliyah mengikuti nanda dari sekolah,rumah,hingga rumah sakit. Nanda pun memasuki salah satu ruangan yang ada di rumah sakit, didalam ruang itu terlihat seorang perempuan tua,yang telah dirawat oleh nanda,tapi anehnya perempuann tua itu belum membuka matanya,seperti terlihat orang yang sedang koma, tersimpanlah pertanyaan di dalam hati auliyah untuk ditanyakan kepada nanda,saat auliyah sedang melihat nanda di dalam ruangan itu melewati jendela,tiba tiba ada seorang suster yang menabrak auliyah “praakkkk” terdengar suara barang yang jatuh “maaf mba’…maaf,, saya tidak sengaja” ungkap suster itu “owh,,, iyah,,, “ jawab auliyah “auliyah? Ada apa kamu di sini,kenapa kamu bisa disini?” Tanya nanda “sudah lah nanda,kau tak bisa menutupi itu semua dari ku,sekarang bersediakah kau untuk pergi bersama aku hanya sebentar.?” “kita mau kemana?” “aku ingin menunjukan sesuatu padamu” seru auliyah Nanda dan auliyah pun pergi meninggalkan rumah sakit,mereka pergi ke sebuah danau,dimana danau itu terlihat sepi dan auliyah sering mengunjungi danau itu ketika dia merasa sedih dan kecewa dan marah mereka saling berbicara di rumah pohon yang meghadap ke danau,disitu akhirnya nanda mau menceritakan kejadian semuanya kepada auliyah. “kau tahu? Di sini tempat aku mencurahkan semuanya,marah,kecewa,dan sedih ku curahkan semuanya disini,sekarang waktunya kamu untuk mencurahkan rasamu di sini” ungkap auliyah “jadi,wanita yang kau lihat di rumah sakit itu adlah ibuku,dia koma mulai dari minggi kemaren,itu semua karna ayahku,dia meninggalkan kita untuk menikah dengan orang lain,sedangkan kakak ku Alvin telah menjadi liar,dia terteka denga semua itu aku tak dapat membujuknya untuk pulang ke rumah,itu lah yang aku alami” nanda menceritakan semuanya pada auliyah “jadi begitu ceritanya,aku tahu bagaimana agar ibumu bisa membuka mata lagi,bagaimana kalau kamu meminta semuanya berkumpul di rumah sakit? Ayah mud an kakak mu.” Auliyah mengusulkan kepada nanda “bagaimana caranya?” Tanya nanda Auliyah pun menarik tangan nanda dan turun dari rumah pohon itu,mereka mengunjungi rumah ayahnya dan meminta agar ayah nya dan istri barunya itu mau menjenguk ibunya di rumah sakit,dan terakhir mereka berdua mencari kakak nanda,mereka pun membujuk kakaknya nada sih Alvin dengan berbagai cara agar kakak nya mau menjenguk ibunya. Nanda yakin jika semuanya berkumpul insyaallah ibunya akan sadar dan akhirnya semua keluarga nanda lengkap di rumah sakit untuk setia membangunkan ibunya dari koma. Nanda pun dating dari pintu,wajahnya tampak bersinar kembali setelah keluarganya kumpul,dia pun segera mendekati ibunya. “ibu,coba lihat bu’,semua keluarga kita berkumpul disini,mereka ingin ibu segera membuka mata ibu… nanda mohon bu” ungkap nanda. Alvin pun mendekati ibunya dan adiknya “ibu bangu yah bu’,,kita semua disini,apa ibu masih ingat,,? Waktu kita bermain bersama,aku nanda ayah dan juga ibu ,kita saat itu berkumpul untuk merayakan hari ulang tahun ibu,, waktu itu muka nanda kena kue” Alvin menceritakan semuanya sambil mengeluarkan air matanya “ah kakak nih bagaimana sih, tuh kan gara gara kakak juga,nanda kan jadi malu “ ungkap nanda “sudah kalian jangan rebut,ayah waktu itu di jatuhkan kekolam,huh mana airnya dingin” ungkap ayah “hhahahaah,iyah aku ingat itu” ucap nanda Mereka terlihat kompak dalam keluarga,mereka saling tertawa dan becanda,tapi seketika mereka terdiam melihat ibunya yang belum juga sadar ,,, Kedua mata nanda pun mulai berembun karma melihat ibunya yang belum juga bangun,nanda terlihat hamper putus asa dengan usahanya, dia meminta permohonan kepada allah agar ibunya dapat membuka matanya kembali “ibu,,, sekali lagi aku ingin ibu membuka mata ibu”, air mata nanda pun jatuh di pipi ibunya. Tangan nya pun mulai bergerak,matanya perlahan lahan terbuka dan memandangi wajah nanda, semuanya pun bergegas mendekati ibu nanda,nanda pun mengusap air mata di pipinya. “nanda,Alvin maaf kan ibu jika harus meninggalkan kalian,kalian berdua akan tetap menjadi anak ibu,usap air matamu,ayo peluk ibu…” Nanda dan Alvin pun memeluk ibunya hingga akhirnya ibunya menutup mata untuk terakhir kalinya di pelukan kedua anak nya Ketika itu nanda merasa detak jantung ibunya tak berdetak lagi,dan tak menghembuskan nafasnya,seperti pisau yang menusuk di ulu hatinya yang membuat kedua matanya kembali mengembun Embun di mata nanda pun kian berguguran menorah hatinya yang semakin terluka…!